“Awalnya posisinya mengahdap kiblat kemudian dibalik lagi posisinya mengahdap ke timur dan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh peserta pingitan, harus pomantoto yang atur dan balik kita punya badan dan diiringi gong, katanya sebagai tanda bahwa yg dipingit sudah melakukan kabalengka (balik posisi),” jelas Wa Daabe lagi.
8. Dikeluarkan dari kamar atau kabalengka. Para peserta akan dikeluarkan dari ruang pingitan setelah melewati waktu yang telah ditentukan. Proses ini akan dipandu oleh pomantoto di pagi buta dengan diiringi musik gong (mbololo) yang tidak boleh terhenti. Sama halnya seperti mengawali kafoluku dan selama dalam ruang kaghombo, bunyi gong didengungkan.
La Ntolori menjelaskan, makna kabhalengka seperti gadis itu dilahirkan kembali dengan sempurna. Pada saat kabhalengka, harus diiringi dengan gong atau mbololo sebagai tanda bahwa di atas rumah, gadis yang dipingit sudah dikeluarkan dari kamar dan gong tidak boleh berhenti sebelum kabhalengka selesai. (A-Adv)
Penulis: Wa Ode Ria Ika Hasana
Editor: Haerani Hambali
