"Jadi gerakannya ini maknanya sangat banyak. Salah satunya menggugurkan dosa seperti pohon yang diterpa angin dan daunnya berjatuhan. Sebenarnya, zikir ini kita anggap zikir biasa, karena masih ada satu lagi zikir dalam tarekat kami yang lebih besar. Tapi dilakukan di waktu tertentu saja, seperti kalau ada wabah atau kondisi negara sedang goncang," lanjutnya.

Ajaran tarekat ini mulai besar di Sulawesi Selatan pada masa kerajaan Turikale di Maros, yang saat itu dipimpin Raja Andi Sanrima Daeng Parukka. Pada masa itu, ajaran ini juga sudah mulai menyebar ke seluruh nusantara.

Saat ini jemaah tarekat Khalwatyah Samman sudah mencapai puluhan ribu orang, yang tersebar di seluruh daerah di Tanah Air. Jemaah tarekat ini juga sudah banyak di negara Malaysia dan Brunei.

Puluhan ribu jemaah berkumpul di Maros setiap tahunnya dalam rangka peringatan Maulid sekaligus ziarah ke makam guru-guru mereka yang berada di tiga lokasi berbeda.

Pencetus awal tarekat Khalwatyah adalah Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani, seorang ulama besar Medinah, sekitar abad ke-18.