"Yang membuat tarekat ini besar yakni pada masa raja keempat Kerajaan Turikale, bersama dengan Syekh Abdul Razak, membuat tarekat ini tidak lagi eksklusif bagi kalangan tertentu saja. Siapa saja boleh ikut. Tak heran kalau pengikutnya sangat banyak dan sampai ke luar negeri," jelas Syeikh Andi Wahyuddin Malik.
Perkembangan tarekat ini di Maros ditandai juga dengan bangunan monumental berupa masjid bernama Urwatul Wutsqa yang didirikan oleh raja keempat Turikale, berjuluk Syekh Abdul Qadir Jaelani pada tahun 1854.
Masjid inilah yang menjadi tempat awal pengembangan tarekat Khalwatyah Samman, selain Leppakomae dan Pattene di Maros.
Tak hanya menyimpan sejarah pengembangan Islam, khususnya tarekat Khalwatyah, salah satu masjid tertua di Maros ini juga menjadi tempat menggagas pendirian Kabupaten Maros, termasuk penentuan nama Maros.
Bangunan asli masjid ini tetap terjaga meskipun telah beberapa kali dipugar. Bahkan beduk dan mimbar yang hampir seumur dengan masjid itu juga masih terawat.
