Sebagaimana dijelaskan Kepala DInas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bombana, Anisa Nur Priharin, bahwa pada masa lalu (sebelum mengenal konsep Tuhan dalam beragama), selain percaya kepada adanya penguasa wilayah, suku Tokotu'a juga percaya kepada roh-roh para leluhur dan sangia yang dianggap memiliki kekuasaan mutlak.

Dahulu ritual persembahan di E’e Mpuu (pusat negeri Tokotu’a zaman dahulu) dengan mengorbankan seorang gadis perawan yang suci nan cantik yang dirangkaikan dengan gerakan-gerakan menari disertai dengan iringan tetabuhan dan syair-syair pemujaan (mantra).

Ritual tersebut diyakini akan mengusir roh-roh jahat yang telah menyebabkan timbulnya wabah. Sejak saat itu, ritual lumense menjadi tradisi dalam mengatasi wabah atau bencana lain yang dianggap berasal dari ulah roh-roh jahat akan tetapi menggunakan hewan sebagai bentuk pengorbanan (tumbal).

Baca Juga: Buton Utara Dilanda Banjir, 11 Rumah dan Kantor Camat Tergenang

Setelah masuknya ajaran Islam, Tari Lumense mengalami penyesuaian di antaranya melakukan gerakan memotong batang pisang sebagai pengganti dari pemotongan hewan (tumbal).