Tarian ini diawali dengan gerakan maju mundur sambil bertukar tempat. gerakan yang ditampilkan merupakan gerakan yang dinamis yang disebut moomani. Tarian ini berakhir ketika para penari terus melakukan moomani kemudian menebaskan parang kepada pohon pisang, sampai pohon pisang itu jatuh bersamaan ke tanah.

Penutup dari tarian ini adalah para penari membentuk konfigurasi setengah lingkaran sambil saling mengaitkan tangan lalu menggerakannya naik turun sambil mengimbangi kaki yang maju mundur. Tarian ini diiringi oleh musik yang berasal dari alat musik gendang dan gong besar yang dikenal dengan istilah tava-tava.

Jumrad Raunde, Salah satu Pemerhati Budaya di Kabupaten Bombana mengatakan, Tarian Lumense saat ini dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda, yakni sebagai seni tari dan tarian adat. Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Bombana dapat memberikan perhatian serius pada Tarian Lumense sahingga terus ditanamkan kepada generasi penerus.

“Harapan besar kami kepada pemerintah kabupaten untuk selamatkan budaya ini. Ada nilai di balik tarian tersebut yang harus diteruskan kepada generasi muda sehingga nilai-nilai kearifan kita yang ditinggalkan oleh para leluhur bisa terus menerus dilanjutkan,” harapnya. (A)

Penulis: Hir Abrianto