BAUBAU, TELISIK.ID – Festival Tuturangiana Batupoaro di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu festival budaya unik yang menyesuaikan dengan kondisi alam.

Festival ini adalah ritual adat yang berkaitan dengan batu yang disebut 'Batu Poaro', yang melambangkan sejarah kepergian “Sang Guru Besar” dan proses masuknya Islam di Buton. Ritual ini mengenang perjalanan Guru Besar Syeik Syaid Abdul Wahid.

Penjabat (Pj) Wali Kota Baubau, Muh. Rasman Manafi, menjelaskan bahwa pelaksanaan prosesi adat ini didasarkan pada pasang surut air laut, yang menjadikannya berbeda dari festival lainnya yang dapat dijadwalkan dengan pasti.

Baca Juga: Sorawolio Jadi Wilayah dengan Prevalensi Stunting Tertinggi di Baubau

“Jika festival lain bisa ditentukan waktunya, Festival Tuturangiana Batupoaro justru bergantung pada surutnya air laut. Jika terjadi perubahan iklim, waktu pelaksanaannya bisa bergeser ke sore atau bahkan subuh,” ungkapnya, Kamis (17/10/2024).