Kota dalam versi Pak Kaimoeddin adalah sebuah perencanaan yang mendorong kota menjadi hubs –penghubung—antara dalam kota dan luar dan mampu mendorong warganya terhubungkan untuk menyediakan dan mengakses kebutuhannya. Meski tidak secara jelas menyampaikan landasan kota dalam taman, tapi saya memahami Pak Kaimoeddin melandaskan perencanaan kota dalam taman ini dalam sejumlah prinsip utama antara lain; (1) Ekologi. Artinya kota ditumbuhkan dengan visi terpadu agar tidak terjadi penurunan ekosistem dan pada akhirnya memicu bencana alam. Kenyataannya mangrove telah habis, jalur hijau telah berubah menjadi jalur jalur perdagangan umum. (2) Melindungi kantong kantong air. Maksudnya adalah jalur jalur serta dataran tinggi tidak dirusak dengan alasan pembangunan. Tujuannya jelas; agar warga Kendari dan sekitarnya tidak kekurangan air bersih.  

Tahura Murhum adalah satu dari sekian kantong air yang sangat dilindungi belasan tahun lalu serta (3) Infrastruktur. Maksudnya adalah semua bangunan harusnya dirancang efisien, ada ruang untuk tanaman, air dan bukan semen dimana mana.  

Saat itu bahkan sisi kiri jalan jalan raya yang baru dibuka bahkan mulai ditanami pohon pohon dan saya ingat izin untuk membangun rumah toko masih ketat.  Kendari masih tampak luas, jalan kaki jadi enak.

Saya bertanya tanya,apakah prinsip ini masih dipegang para pemimpin di Kota Kendari saat? Apakah mereka gelisah ketika melihat banjir melanda? Apakah kebijakan kota dibahas sebagai bagian dari masalah bersama? Atau apakah semua orang merasa ini biasa biasa saja?

Kota Kendari hari ini, di kiri kanan jalan, ruko ruko berwarna warni, ada tong sampah dengan sampah menumpuk dan kucing yang tampak kelaparan. Ada angkot dengan klakson dipencet berulang ulang dan suara musik seperti klub malam. Ada pengendara motor yang terburu buru meliuk di jalan, entah mau kemana. Inikah kota yang diinginkan? (*)