"Saya tidak tahu jumlah pastinya, yang jelas setiap berangkat mobil saya mampu memuat 20 ton lebih kakao kering. Dalam setahun saya dapat mengirim kakao kering ke bos di Makassar sebanyak 20 kali (20 truk), jadi kalau dikalkulasi itu ratusan ton per tahun," jelasnya.

Baca juga: Akan Jadi Lumbung Ketahanan Pangan Nasional, Bendungan Raksasa Pelosika Segera Dibangun

Saat ini, ia melanjutkan, penghasil kakao terbanyak di Marboko, Desa Watumotaha, selanjutnya Ninbuneha dan Parutellang. Merosotnya hasil kakao di dua desa tersebut diakibatkan usia kakao yang terbilang tua, sementara di Marboko semuanya coklat baru dengan usia 5 tahun.

Selain kakao, H. Yasri juga membeli hasil bumi lainnya, seperti cabai rawit, lada (merica), gula aren (gula merah), jahe, dan minyak atsiri (minyak nilam).

Untuk cabai rawit, dibeli dari petani dengan harga Rp 30.000 per kilogram, kemudian ia jual kembali ke Masamba, Makassar, atau Kendari dengan harga Rp 33.000 per kilogram.