Oleh: Abrar

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara dan sosiolog olahraga  

PIALA dunia FIFA 2026 tengah berada di puncak keseruannya. Jutaan mata di seluruh dunia, termasuk jutaan pasang mata di tanah air, terpaku pada layar kaca, menyaksikan drama, air mata, dan sorak-sorai yang pecah dari stadion-stadion megah di Amerika Utara.

Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari riuhnya analisis taktis dan perdebatan teknologi VAR yang tiada habisnya, kita akan menyadari bahwa lapangan hijau sebenarnya adalah sebuah teater raksasa yang sedang mementaskan drama eksistensial manusia secara telanjang.

Sepanjang sejarah sepak bola, tidak ada dua fenomena yang lebih dramatis, kontradiktif, dan membekas dalam memori kolektif peradaban kita selain "gol bunuh diri" dan gol "Tangan Tuhan" oleh Diego Maradona pada 1986 silam. Menatap kedua fenomena ini melalui lensa filsafat olahraga bukan sekadar urusan mencatat angka di papan skor, melainkan usaha untuk mengintip ke dalam labirin terdalam jiwa manusia.