Pendidikan nasional menurut paham tamansiswa ialah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.

Artinya, pendidikan merupakan suatu daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak yang kesemuanya itu tidak boleh dipisah-pisahkan, agar supaya dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa tujuan awal pendirian Tamansiswa ialah memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang demokratis atau sama bagi para pribumi jelata Indonesia, layaknya privilese yang dimiliki para priyayi atau orang-orang kolonial saat itu. Hal ini menegaskan bahwa kehadiran Tamansiswa disini mengusung “Nasionalisme-Progresif” yang menginginkan terciptanya keadilan dan kemerdekaan rakyat Indonesia secara universal.

Ini juga diafrimasi oleh pernyataan Ki Hadjar bahwa pendidikan dan pengajaran dalam Tamansiswa sesungguhnya diaras dan disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat. Ini adalah transfigurasi Tamansiswa sebagai upaya mewujudkan sistem pengajaran yang berfaedah bagi peri kehidupan bersama rakyat indonesia.

Kemudian, metode belajar yang menopang definisi pendidikan menurut Tamansiswa pada saat itu ialah konsep belajar tiga dinding, suatu konsep yang mendesain bentuk ruang sekolah yang rata memiliki empat dinding. Ki Hadjar menganjurkan agar ruang kelas dibangun dengan tiga sisi dinding, sedangkan satu sisi lainnya terbuka.