Nyatanya, PDIP kala itu memperlunak bahasa dari oposisi dengan istilah mitra kritis dan juga menerima jabatan Ketua MPR yang diduduki oleh Taufik Kiemas atas dukungan Partai Demokrat sebagai penguasa saat itu.
Hal lain yang juga patut menjadi kalkulasi, jika bukan karena Partai Demokrat terdampak “tsunami politik” akibat korupsi yang dilakukan kader-kadernya. Di sisi lain, juga karena kehadiran fenomenal dari sosok Joko Widodo sebagai capres, tentunya patut diragukan PDIP dapat memimpin kembali pemerintahan. Joko Widodo adalah faktor kunci kemenangan satu dekade PDIP dibandingkan sebagai oposisinya.
Jadi, apakah PDIP telah benar-benar siap menerima konsekuensi menjadi oposisi selama satu dekade jika memaksakan Puan ditengah kemungkinan memerintah untuk ketiga kalinya? Dan, juga patut diingat, kecenderungan pemilih Indonesia, akan memilih selama dua periode capres yang telah memenangkan Pilpres pertamanya.
Kelemahan Puan Maharani
PDIP kesulitan untuk mengangkat elektabilitas Puan Maharani karena karakter personal dari Puan Maharani sendiri. Padahal, ia sudah lama berada dalam kancah politik dan telah mengemban berbagai jabatan di pemerintahan. Tetapi memang figur dirinya juga kinerjanya ditenggarai tak tertanam dan melekat erat di benak masyarakat.
