Bagaimana kehidupan sekolah, Ningsih tidak pernah merasakan itu. bagaimana rasanya bermain bersama anak-anak lain di taman sekolah, diajar oleh guru, mengikuti setiap upacara, semuanya tidak pernah Ningsih alami.
Masa-masa sekolah adalah masa-masa yang paling tidak bisa dilupakan. Tertawa, bercanda, dimarahi guru, dihukum, semuanya adalah kenangan yang tidak bisa kembali terulang. Dan Ningsih menjadi satu dari sekian banyaknya pemulung yang kurang beruntung dan harus kehilangan masa itu.
Baca Juga: Kisah Pedagang Sapu Lidi Jalanan jadi Guru Ngaji
Pada akhirnya, Ningsih tumbuh besar menjadi seorang tuna aksara (tidak bisa baca). Dan hanya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan memulung.
Kadangkala Ningsih harus merasakan lelahnya memulung dan menahan rasa sakit yang seringkali menderanya. Ningsih pernah mengalami sakit dan karena sakitnya itu ia harus berjalan ngesot sambil memulung. Bagi Ningsih ujian terberatnya adalah saat harus menahan sakit. Sebab jika ia sakit, tidak akan ada orang yang membantunya. Ningsih hanya bisa diam dan manahan sakit yang sering menyerangnya.
