Ahmad Syafii Maarif melihat perbedaan sebagai bagian dari kehendak Tuhan yang harus disikapi dengan sikap ta‘aruf—saling mengenal, bukan saling menegasikan. Ia menekankan bahwa pluralitas adalah anugerah yang mendorong manusia untuk membangun persaudaraan universal.
Dalam kerangka ini, ukhuwah tidak hanya bersifat internal (antar-Muslim), tetapi juga meluas menjadi ukhuwah insaniyah (kemanusiaan). Prinsip seperti keadilan, egalitarianisme, dan toleransi menjadi fondasi dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan.
Ukhuwah sebagai Kesadaran Tafsir
M. Quraish Shihab sering menekankan bahwa perbedaan dalam Islam banyak terjadi pada wilayah tafsir, bukan pada prinsip dasar. Karena itu, ia mengajak umat untuk membedakan antara ushul (pokok) dan furu’ (cabang).
Dalam perspektifnya, ukhuwah akan terjaga jika umat memiliki kesadaran epistemologis—bahwa kebenaran yang kita pahami seringkali merupakan hasil interpretasi, bukan kebenaran mutlak itu sendiri. Dengan kesadaran ini, ruang dialog akan terbuka, dan sikap saling menyalahkan dapat diminimalisir.
