Peristiwa yang ditimbulkan akibat premanisme, mulai dari yang teringan (tapi kerap berakibat fatal), sampai kepada yang berat-berat.

Yang ringan, misalnya, di banyak jalan-jalan sempit, ditemukan beroperasi para “pak ogah” yang sering memalak ketika memandu mobil yang melintas di situ.

Mereka yang mengaku “ankamsi” (singkatan dari anak kampung sini) seraya memalak, mereka yang akan merenovasi rumah di suatu kawasan perumahan; mereka yang memalak saat mobil PLN akan memperbaiki jaringan di suatu kawasan perumahan, dengan anggapan, bahwa itu adalah rekanan kontraktor.

Ada pula modus lain. Para preman memeras para pekerja seraya menjanjikan pasti diterima sebagai pekerja di suatu pabrik. Modusnya, memaksa  pemilik industri menyediakan lapangan kerja bagi sejumlah pekerja yang telah mereka jamin pasti diterima bekerja di situ. Tentu, setelah mereka meminta dan mendapat sejumlah uang dari si calon pekerja. Preman yang beroperasi sebagi calo tenaga kerja!

Juga, ada lagi sekelompok preman yang sampai menghadang dan membakar salah satu dari empat mobil polisi, ketika polisi akan menangkap ketua kelompok organisasi massa (ormas) yang terlibat penggunaan “air soft gun” dan penganiayaan. Luar biasa pengaruh pemimpin preman ini!