Si ibu asyik dengan Hp-nya sambil tertawa-tawa tertahan-tahan. Sementara seorang anak laki-lakinya, yang mungkin belum tamat ini SD, berulang kali memperlihatkan mimik emosional dalam bergadget-ria. Seorang anaknya yang lebih kecil tidur-tiduran asyik pula dengan gadget di tangan.
Ibu dan kedua anak, asyik sendiri-sendiri. Ketiganya secara emosional telah terfasilitasi oleh gadget. Lantas, siapakah penyedia gadget itu?
Apakah ada hubungan kegilaan pada teknologi cepat saji itu dengan menipisnya gotong-royong?
Untuk menjawabnya, tinggal pilih saja, lebih dulu melakukan survei pembuktian demi berbicara atas nama data, atau membiarkan kegilaan itu terus berlangsung hingga terbina berperilaku asosial?
Yang jelas, Bung Hatta, salah seorang bapak pendiri bangsa dan juga proklamator, atas dasar nurani dan kemampuannya dalam ilmu ekonomi dan pemahaman akan budaya gotong-royong yang tumbuh dalam keberagaman bangsa ini, telah diterima oleh bangsa Indonesia sebagai Bapak Koperasi.
