Hampir semua hubungan relasi sosial, politik dan kemanusian pun dibisniskan, yang berorientasi keuntungan pribadi. Saudarapun dibisniskan, orang tua pun banyak yang diperkarakan oleh anaknya soal  warisan di pengadilan. Itulah ciri dari mental kapitalis, jauh beda dengan  mental Pancasila yang menganut azas musyawarah mufakat dalam setiap masalah.

Baca Juga: Perilaku Kontroversial Penista Agama

Mental kapitalis tak ada kompromi. Ada uang abang disayang, tak ada uang adik cari yang lain. Kenapa begitu? Karena hubungan dibangun atas dasar kepentingan ekonomi dan politik.

Ciri lain mental kapitalis ‘free competition’. Persaingan bebas dalam politik, persaingan bebas dalam ekonomi, semua bermuara dapat keuntungan sebesar-besarnya. Secara pribadi dan kelompok termasuk orang orang yang teriak keras, saya Pancasila dan saya NKRI, juga tak lepas dari mental kapitalis.

Sekarang harga-harga kebutuhan dasar masyarakat seperti gas, minyak goreng dan lainnya, harganya meroket. Mestinya negara segera hadir melakukan intervensi pasar, tapi dibiarkan terus berjalan lama. Harga terus moroket. Itu ciri ekonomi kapitalis yang menerapkan mekanisme pasar, dengan membiarkan jalan sendiri menentukan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.