“Indonesia adalah guru bagi banyak negara dalam penyelenggaraan haji dan musabaqah Al-Qur’an. Banyak negara mencontoh sistem kita. Ini kebanggaan bangsa yang harus kita jaga bersama,” ujar Nazaruddin.

Ia menambahkan, STQH bukan sekadar ajang lomba membaca ayat suci, melainkan bentuk diplomasi spiritual Indonesia.  

“Agama harus hidup, dirayakan dengan semarak agar dikenal, namun juga harus memiliki kekuatan agar berpengaruh. Dua hal ini kita satukan dalam STQH,” tegasnya.

Menurutnya, penyelenggaraan STQH di Sulawesi Tenggara sejalan dengan Asta Cita Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, yang menekankan pembangunan sumber daya manusia unggul dan berkarakter religius.  

“Saya bangga melihat dewan hakim yang kini tersistem dan mengalami regenerasi. Ini bukti bahwa pembinaan keagamaan kita semakin berkelas dan berkelanjutan,” katanya.