Elektabilitas Prabowo yang tinggi ini mirip dengan Ganjar Pranowo yang didasarkan oleh kinerjanya, yang sekaligus menjelaskan bahwa trend pemasangan atribut baliho dan billboard di ruang publik tak berbanding lurus dengan tingkat elektabilitas politisi tersebut, lihat saja kegagalan baliho dan billboard dari Ketua DPP PDIP Puan Maharani, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
Meski begitu, antara Prabowo dan Ganjar Pranowo tentu saja berbeda dalam kita membaca elektabilitasnya. Prabowo saat ini masih tinggi elektabilitasnya karena suara publik yang sempat memilihnya pada Pemilu 2019 lalu, masih tetap dalam genggaman, meski tidak lagi seluruhnya.
Berbeda dengan Ganjar yang merupakan tawaran calon alternatif, calon baru, calon dari kalangan muda, berbasis kekuatan popularitas di daerah bukan atas nama pusat (Jakarta) dan ia juga pejabat kepala daerah yakni Gubernur Jawa Tengah. Ketika kita telah mendudukkan Ganjar Pranowo dengan dibandingkan Prabowo Subianto, menunjukkan Prabowo Subianto perlu berhati-hati.
Trend Hasil Survei Sekitar 6 bulan tepatnya sampai September telah menunjukkan, ada tiga calon presiden yang popularitasnya dalam posisi tiga besar saling kejar-mengejar, bahkan dalam hasil survei terbaru Kompas pada 18 Oktober 2021 menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dalam posisi sama kuat, seri, sebesar 13,9 persen (Kompas.com, 23 Oktober 2021).
Berdasarkan Survei di bulan Oktober ini juga menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto tak pernah sampai di angka 30 persen. Bahkan, jika melihat hasil Survei suara Prabowo, sebenarnya mengalami penurunan dari 18,1 persen sekarang turun menjadi 13,9 persen, meski ini terjadi karena kita membaca hasil survei misal dari pengelola Survei yang berbeda, tetapi ini bisa menjadi peringatan dini.
