Di sisi lain, Prabowo dianggap representasi dari calon presiden golongan tua, sekaligus representasi kekuatan politik lama, ini juga modal popularitasnya.
Hanya saja, Prabowo memperoleh beban diri yang lebih berat. Saat ini kalangan tua, petarung dalam perebutan calon presiden umumnya yang wajah lama hanya menyisakan Prabowo sendiri.
Sedangkan lawannya adalah orang-orang muda, wajah baru, dan hal yang utama trend kesuksesan Jokowi beranjak dari kesuksesan di daerah baru kemudian menuju ke level pusat malah cenderung menguat dengan representasi dari tiga calon yang terus mewarnai hasil survei calon presiden seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan.
Hal yang juga menyelimuti dari kans Prabowo adalah ia membutuhkan mitra koalisi untuk mendukung dirinya. Berbicara koalisi artinya, posisi tawar Prabowo menjadi tiga kemungkinan, sebagai calon presiden, atau sebagai calon wakil presiden, atau malah cukup sebagai ‘king maker’ yakni sebagai penentu calon presiden dan wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
Bongkar-pasang analisis calon presiden dan wakil presiden dengan mengikutsertakan Prabowo memang saat ini terlalu dini sebagai ukuran, selain dapat dianggap sebagai catatan semata. Kancah politik sebenarnya dalam proses penetapan calon presiden dan wakil presiden masih jauh dari perencanaan, karena yang direncanakan tahap pencalon untuk Pemilihan Presiden akan terjadi pada tahun 2023 mendatang.
