"Selain itu, hakikat puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat," katanya.

Baca juga: 7 Profesi Perempuan di Awal Islam

Dimana, kata dia, Nabi menyebut bahwa “Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

"Karena itu, takwa tidak hanya berkaitan dengan rasa takut di dalam masjid saja atau di atas sajadah. Tapi harus tercermin pada sikap hati-hati dan takut kepada Allah SWT dalam semua dimensi kehidupan, keyakinan ideologi, sosial, politik, ekonomi, budaya, peradaban, dan sebagainya," jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa seorang muslim belum takwa namanya kalau masih memakan riba, menyakiti sesama Muslim, korupsi, membiarkan saudara Muslim menderita, menyerahkan kekayaan alam kepada penjajah, dan menghamba kepada sesama manusia.