Oleh: Irwan Samad, S.PdI, M.Pd
Guru MA Aasy-Syafiiyah Kendari
DEWASA ini, merdeka belajar ramai didiskusikan di ruang publik. Ketika Mas Menteri Nadiem pertama kali memperkenalkan kebijakan merdeka belajar tahun lalu, respon publik biasa saja. Tidak sebegitu besar dibandingkan saat ini. Entah karena dunia pendidikan kita yang saat ini terguncang akibat terpaan COVID-19 atau karena unsur lain.
Sebagian kalangan menilai merdeka belajar bukan sesuatu yang baru. Sudah dipraktekkan puluhan tahun silam dengan mengadopsi model pembelajaran yang dipopulerkan Prof Conny Setiawan melalui Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) di dekade 70-an (merdeka.com). Bahkan ada juga yang justru mengkrtisi merdeka belajar hanyalah retorika melangit. Terkesan utopis di tengah ketimpangan dunia pendidikan.
Namun, bagi Saya kurang elok rasanya memperdebatkan merdeka belajar itu baru atau usang. Yang paling terpenting saat ini adalah bagaimana menjadikan merdeka belajar itu sebagai momentum untuk menata model pendidikan kita saat ini yang terdampak akibat pandemi COVID-19. Dan menjadikannya best practice dalam pendidikan kita.
