Penutupan sekolah yang berlangsung cukup lama mengakibatkan kemampuan berliterasi anak pun menjadi tidak berkembang dengan maksimal. Bahkan potensi dan resiko anak angka putus sekolah pun sangat besar.

Inger Ashing, Kepala Eksekutif Lembaga  Save the Children membeberkan 9.7 juta anak sekolah di Indonesia terancam dan beresiko putus sekolah secara permanen. Hal tersebut didasarkan pada data Unesco yang menunjukkan pada bulan April 1,6 miliar pelajar diliburkan dari sekolah dan universitas sebagai langkah untuk menekan penyebaran COVID-19 (detiknews).

Belum lagi berbicara tentang bagaimana kualitas pendidikan kita khususnya di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T), pembelajaran daring selama ini bagi mereka justru ibarat pungguk merindukan bulan. Akhirnya, jarak antara si kaya dan si miskin semakin menganga.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Belajar Dari Rumah (BDR) harus diakui menjadi satu-satunya opsi paling aman saat badai pandemi COVID-19 menghantam negeri ini. Karenanya, saya berpandangan, inilah momentum yang paling tepat untuk mengeksekusi konsep merdeka belajar. Kehadiran merdeka belajar dapat menjadi pelecut semangat untuk menggelorakan kembali dunia pendidikan kita.

Baca juga: Karakter Menentukan Seluruh Gerak Perubahan Negara