Meskipun banyak tantangan, tetapi pandemi juga memberi keleluasaan bagi para guru dan peserta didik. Kesempatan untuk belajar dan menjadi pribadi pembelajar yang dilandasi dengan spirit gotong royong (berbagi) sebagai ciri khas budaya bangsa kita. Pandemi mengajarkan untuk saling berempati dan bertoleransi.  

Guru yang miskin inovasi dan tidak merdeka belajar, ia akan berdiam diri dalam kegamangan. Sebaliknya, guru yang memiliki “iman” yang baik (kreatif dan inovatif), pembelajaran penuh kegembiraan. Guru dan peserta didik yang merdeka dalam belajar menganggap kapan, di mana dan siapapun dapat menjadi inspirasi dan sumber belajar. Ada kuota maupun tidak, belajar tetap berjalan dengan riang gembira.

Saat ini kita banyak menyaksikan bocah di negeri ini belajar di persawahan, kaki bukit, ataupun di lereng gunung. Sebagaimana juga bukan pemandangan aneh lagi saat kita banyak melihat anak sekolah membaca di emperan toko sambil berjualan. Bukan hanya karena ruang kelasnya belum dibolehkan dibuka, namun mereka tak punya cukup uang untuk membeli gawai dan kuota. Meski begitu, rauh wajahnya tetap menyiratkan optimisme.

Merdeka belajar memberikan ruang yang luas kepada para guru untuk berani mengambil resiko dan tantangan. Menginspirasi peserta didik untuk berkarya. Itulah guru penggerak. Sebagaimana William Arthur Ward (1921-1994), berkata “great teacher inspires.”

Tantangan dan Solusi