Masih segar dalam ingatan kejadian tragis satu keluarga meninggal dunia di Jakarta. Mereka baru berhari-hari kemudian diketahui meninggal di rumahnya yang tertutup, lantaran bau tak sedap meruap ke tetangga.
Terlepas dari etnis apa dan apa pula motivasinya, tingkat kekayaan yang bagus, bagaimana pergaulannya, dan agama yang mereka anut, kejadian ini menjadi pukulan berat untuk gotong-royong yang katanya sudah menjadi “identitas” bangsa Indonesia. Bukankah tak mungkin gotong-royong dimulai dan kemudian terbangun tanpa ada rasa kepedulian?
Di Berbagai Daerah
Gotong royong, jika itu diartikan “bekerja bersama” (“tolong-menolong”, “bantu membantu”) seperti dalam KBBI, (2002: 370), rasanya benar bahwa di tengah kelatahan para pejabat melontarkan “jargon sinergitas” dalam berbagai kesempatan bersifat seremoni, gotong-royong “masih hidup”. Kendati, mungkin, sudah tergerus oleh serbuan “semua serba uang” seiring kecenderungan “industrialisasi super modern” yang kian menggeser manusia sebagai faktor produksi menjadi ke sekadar alat produksi.
Berbagai gambaran bahwa gotong-royong masih hidup dapat dilihat di berbagai daerah di tanah air. Kenyataan ini dapat ditemukan, antara lain di pulau-pulau Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tengara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Kalimantan. Tentu saja, hal serupa itu juga dapat ditemukan di pulau-pulau Jawa (Jatim, Jateng, DIYogyakarta, Jabar, Banten), Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Jambi), serta Bangka Belitung, Riau, Kepulauan Riau.
