Masyarakat di pulau-pulau tersebut, sudah terbiasa dengan aktivitas bersama, mulai dari membersihkan ladang, bercocok tanam (menanam sampai memanen), dan membangun rumah. Selain, untuk kepentingan umum, mereka juga bergotong-royong membangun jalan, sanitasi, dan kantor desa.

Di NTT, misalnya, dalam masyarakat “lamaholot” di Flores Timur daratan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat gotong-royong yang dikenal sebagai ”gemohing”. Daerahnya, meliputi Pulau Adonara, Solor, dan Pulau Alor-Pantar.

“Kalau  saya tidak salah ingat, ”gemohing” itu diangkat dari kearifan lokal setempat oleh (alm) Bupati Markus Weking di awal-awal 1980-an. Di desa asal saya, Retraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang juga ada, “matofan rene” (kerja berasama membuka lahan kebun) namanya,” urai Hans Itta (69), jurnalis senior Harian Merdeka (BM. Diah) kepada penulis dalam bincang-bincang 78 tahun RI merdeka. 

Masih di NTT, tepatnya di Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Sejak 1970-an, masyarakat di sini biasa gotong-royong untuk kepentingan keluarga tertentu. Mereka mengumpulkan uang untuk membiayai anak-anak lulusan SMA yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Nama  kegiatan itu “Poka Sawar Limbang Sama” (PSLS). Mengutip Puslap Kemendikbud, detik.com (11/8/2022) melansir, PSLS dikembangkan dari tradisi “Poka Soet Limbang Oken” yang memang telah ada sejak ratusan tahun silam.

Berlandaskan lima asas meliputi religius, kekeluargaan, kerja sama, musyawarah, dan mufakat, masayarakat Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara, juga punya tradisi gotong- royong yang mereka namakan “Mapalus”. Dalam kegiatan ini, biasanya, mereka selain bekerja bersama menyambut datangnya panen raya, juga membantu keluarga yang mengalami kedukaan saat aggota keluarganya meninggal.