Di Sulewesi Selatan, tepatnya pada Masyarakat Bugis Barru ada tradisi yang terbilang unik. Tepatnya di Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau. Di sini ada kebiasaan warga memindahkan rumah dari satu lokasi ke lokasi lain. Dalam kerja bersama yang dinamakan maraca’ bola” ini, masyarakat beramai-ramai menggotong untuk memindahkan rumah. Dilansir oleh kompas.com (15/5/23), tradisi ini sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun.

Di antara sejumlah tradisi gotong-royong di Sumatera Barat, orang Minangkabau di Kabupaten Pariaman memiliki kepedulian menolong sesama yang mengalami kesulitan permodalan. Aktivitas ini dinamakan “julo-julo”, semacam arisan. Uang yang terkumpul digulirkan untuk memodali sebuah keluarga yang mengalami kesulitan modal memulai usaha produktifnya.

Ketika usahanya sudah berjalan, maka yang bersangkutan wajib mengembalikan secara arisan, untuk kemudian digunakan oleh keluarga yang lain pada kesempatan berikutnya.Terus begitu bergantian. Pada 1980-an BKKBN menggulir  hal serupa dengan nama “pinjaman berantai.”

Kepedulian, Musyawarah, Ikhlas

Indonesia di masa lalu oleh penjajah Belanda dinamakan Hindia Belanda, setelah sebelumnya sebagai bagian terbesar dari Nusantara. Salah seorang founding fathers, Ir. Sukarno (Bung Karno), yang kelahiran zaman Belanda, mengungkapkan, awalnya upah tidak dikenal bagi pekerjaan di rumah tangga di lingkungan masyarakat Indonesia. Bila ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan, setiap orang turut membantu.