Bila akan mendirikan rumah, ada warga yang membawakan batu tembok, dan yang lain membawakan semen. Bung Karno juga menceritakan susahnya kehidupan  ketika ia kecil di masa penjajahan itu.

“….Keluarga Munandar menempati rumah yang satu kelompok dengan kami. Sesuai kebiasaan orang Jawa, kalau kami tidak punya beras, kami makan bersama mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pinjam ke mereka. Itulah gotong-royong. Setiap orang ikut ambil bagian…. Itulah gotong-royong. Saling membantu,” ungkap Bung Karno kepada jurnalis AS, Cindy Adams yang dituangkan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2019: 32-33, 30).  

Konsep gotong-royong, boleh jadi, secara formal baru diangkat oleh Bung Karno dalam sidang BPUPKI sebagai suatu unsur amat penting sebagai prinsip-prinsip dasar negara merdeka, di saat dua 2,5 bulan lebih jelang Kemerdekaan RI akan diproklamasihkan. Tetapi, sebagai budaya, diyakini, sudah ada sebagai tradisi yang mengakar di Nusantara (khususnya Indonesia, kini) sejak manusia di sini hidup bermasyarakat.

Baca Juga: 24 Tahun Reformasi dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia, tulis Pak Koen, sekurangnya ada empat konsep meliputi: 1) manusia tidak hidup sendiri di dunia ini; 2) dalam segala aspek kehidupannya, manusia pada hakekatnya tergantung pada sesamanya; 3) karena itu, ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa, dan 4) selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komunitas, terdorong oleh jiwa sama tinggi – sama rendah (1984: 62-63).