Indonesia merdeka diproklamasikah oleh Ir. Sukarno-Drs. Hatta (an. Bangsa Indonesia) pada 17 Agustus 1945. Sejak itu, sekecil apa pun derap pembangunan digerakkan. Begitu juga pada periode-periode kepemimpinan berikutnya hingga kini Indonesia dipimpin oleh Presiden ke-7, Ir. Joko Widodo (Jokowi). Di setiap periode ada dalam dinamika kepemimpinan masing-masing, yang dalam bahasa permaafan dikalimatkan “dengan segala plus-minus-nya.”

Semua negara dan kepemimpinannya bergeming terhadap pengaruh dari dan untuk apa pun yang terjadi dalam tatanan pergaulan internasional. Di dalamnya, termasuk terus-menerus sangat dipengaruhi oleh kepentingan (masing-masing) dalam negeri, sekawasan, dan luar negeri. Sekaligus saling ketergantungan.    

Empat konsep dalam sistem nilai budaya Indonesia yang dikemukakan  oleh Pak Koen tadi, diberikannya sebagai identifikasi secara tajam, untuk menjajawab pertanyaan, “Apakah gotong-royong itu menghambat pembangunan?”

Dengan keempat konsep tersebut, penulis secara saksama melihat gotong royong tidak mungkin terwujud tanpa (sedikitnya) tiga hal mendasar dalam persaudaraan sebangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika –perbedaan dalam persatuan. Ketiganya, yakni ”kepedulian”, yang kemudian digagas dan dibahas dalam “musyawarah” untuk dieksekusi dengan “Ikhlas.”

Oleh karena itu, penggambaran tentang perbandingan antara penumpang muda usia di trem  di “negeri bule” tetangga dan KRL di Jaobdetabek, bukanlah sebuah sinisme. Tetapi, contoh itu ada dalam masa (terus) membangun. Juga, cerita tentang “seorang janda menderita” yang justru membuat ibu-ibu pemungut iuran bulanan RT meradang, bukanlah sebuah sinisme. Keduanya hanya sekian dari persoalan kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bersaudara yang tak kunjung berjawab sampai mereka mau kembali kepada gotong-royong.