Ujian hidup terus datang silih berganti. Tak punya pekerjaan lain membuat ia bergantung pada hasil memulung.

"Saya ingin bisa beli beras dan makanan lain untuk anak sama kemanakan. Kasihan mereka harus ikut kelaparan karena saya tak punya uang," ungkapnya.

Hidup bersama sang buah hati membuatnya harus terus memutar otak. Tak punya penghasilan, Lia hanya bisa mengandalkan lingkungan sekitar. Ia bertumpu pada hasil memulung untuk menjadi rupiah.

"Pokoknya keliling. Di mana ada botol plastik bekas yang dibuang, saya kumpulkan, terus ditimbang," tambahnya.

Di dalam hati ia tak ingin sang buah hati sampai tak sekolah. Namun kenyataan tak memuluskan harapannya. Ia tak mampu membayar biaya pendidikan bagi buah hatinya.