Namun, ternyata arus perkembangan tersebut tak hanya mengubah zaman, tapi berdampak pada kemorosotan pemikiran. Dengan kemudahan berselancar di dunia maya, informasi yang bertebaran seringkali tak terkendali. Bahkan, tak mampu meminimalisir adanya opini sekulerisasi.
Benar kata seorang pejuang, beda zaman beda tantangan. Karena faktanya hingga kini, permasalahan dalam negeri tak menemui titik resolusi yang pasti. Bahkan, hari demi hari kian menjadi-jadi.
Milenial pun tak yakin politisi mampu memberi solusi. Sebab, politisi dicap tak baik dalam menanggapi aspirasi. Tak sebanding dengan masa kampanye, demi hak pilih rakyat dicari-cari.
Berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat (Merdeka.com,21/03/2021).
Meski menganggap politisi dan partai tak mampu mengatasi persoalan, namun masih berharap penyempurnaan praktik demokrasi menjadi solusi.
