Di sekolah tersebut sangat minim bantuan dari pemerintah, dimana dana bantuan selama ini hanya berasal dari masyarakat setempat. Pembangunan bertahap yang selama ini dilakukan, berasal dari uang Komite Siswa, dan uang pribadi milik kepala sekolah yang antusias ingin membangun sekolah tersebut.
Sumartin sangat menyayangkan sekolah tersebut masih kurang apresiasi dari pemerintah, dan hanya mengandalkan gotong royong masyarakat sekitar guna menunjang sarana dan prasarananya.
Diketahui, penyelenggaraan pendidikan umumnya dilakukan masyarakat, dan digerakkan oleh yayasan. Dalam hal tersebut, yayasan mempunyai peran penting, namun sayangnya secara Ekonomi, yayasan kurang menunjang hal tersebut.
Salah seorang guru MI Fikrul Mustanir, Maswan menambahkan, segala upaya telah dilakukan pihak sekolah untuk menemukan donatur. Namun sejauh ini selalu gagal. Pihak sekolah hanya mengharapkan gotong-royong warga sekitar, dan tentunya tetap menerapkan pembelajaran meskipun dengan fasilitas seadanya.
Baca Juga: Rektor IAIN Kendari Perkenalkan Karia dan Boka Mata Uang Adat Muna di Australia
