Masyarakat saat ini hanya disuguhi akrobat politik yang memuakkan. Salah satunya yang dilakukan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kembali menjadi sorotan setelah menjelaskan terkait aturan pengeras suara di masjid. Menag Yaqut mengumpamakan pengeras suara masjid dengan gonggongan anjing.
Padahal, banyak pilihan dalam memberikan analogi tanpa harus memilih menggunakan istilah tersebut. Sebagai seorang pembatu presiden dan apalagi dengan posisi sebagai menteri agama sangat disayangkan sering mengeluarkan pernyataan yang kontraproduktif dan brutal, yang akan ditafsirkan secara liar di wilayah publik.
Dalam tindak tanduk dan ucapan, harusnya Pa Menteri Agama menyampaikan ucapan yang meneduhkan dan menenangkan semua kelompok-kelompok yang ada dalam merespon surat edaran tersebut.
Ucapan yang baik akan membawa pada suasana kebajikan yang mengarah pada penghormatan terhadap pilihan yang berbeda untuk mendukung atau menolak surat edaran tersebut. Sikap dan tindakan pemimpin adalah teladan bagi rakyat. Saat pemimpin bersikap dan bertindak atas nama kemanusiaan dan keadaban maka kehidupan penuh harmoni.
Sebelumnya, Yaqut menyebut dalam pertemuan internal bahwa Kementerian Agama merupakan hadiah dari negara kepada Nahdatul Ulama (NU). Walaupun, konteks disampaikan dalam pertemuaan tertutup tapi Yaqut saat ini adalah berposisi sebagai menteri agama di republik ini. Sebagai publik figur yang segala ucapan dan tindakannya akan menjadi evaluasi publik.
