Semua proses tersebut tidak sedang mendewasakan bangsa ini, namun sedang mempertontonkan kekanak-kanakan. Padahal mereka akan memimpin bangsa ini.
Apakah emosi dan sentiment pertarungan Jokowi-Prabowo yang kemudian menjalar melalui ruang publik saat ini. Seharusnya ruang publik sebagai medium mewujudkan tatanan masyarakat beradab --meminjam istilah Habermas (1991)—hanya menjadi teori di bangku kuliah.
Harusnya pemimpin dan para pembantunya menjadikan ruang publik sebagai sarana komunikasi (humanisasi). Bukan kemudian ruang publik malah dipenuhi rasa curiga dan kebencian.
Karena insan unggul adalah mereka yang mampu menerima perbedaan dan berdialog dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita membutuhkan komunikasi publik yang lebih baik dari Jokowi dan pembantunya saat ini, komunikasi yang bernarasi kebangsaan, adalah apa yang ditawarkan dan diperbuat oleh pemimpin membawa kapal bangsa ini.
Sehingga yang ditawarkan adalah program-program besar, bukan recehan memupuk citra. Oleh karena itu, memimpin bukan hanya selama lima tahun. Namun, lima tahun itu memupuk dan mengelola politik beradab. Dengan meletakkan, membangun, dan membangkitkan, serta menawarkan gagasan/tindakan untuk kedaualtan bangsa/negara. Tapi bukan untuk menawarkan Pemilu ditunda dan ujung-ujungnya presiden 3 periode. (*)
