Pipa yang digunakan sudah keropos-keropos, sehingga biaya pemeliharaan ketika terjadi kerusakan terpaksa dibebankan kepada masyarakat sebesar Rp 10.000 per kepala keluarag (KK). Itupun, hanya mampu menjangkau 60 persen warga kelurahan.
"Sisanya memanfaatkan air sumur dan air sungai. Ketersediaan air bersih khususnya di Kelurahan Batu Putih sangat susah. Kondisinya semakin parah karena tidak beroperasinya PDAM selama bertahun-tahun," terangnya, Kamis (3/7/2023).
Keberadaan air swadaya tidak serta-merta membuat warga dapat memenuhi kebutuhan air bersih, mereka masih harus menggunakan mesin dinamo air untuk menyedot air dari pipa induk masuk ke penampungan.
"Debit air kurang karena pipa induk yang digunakan sudah bocor-bocor sehingga air yang bersumber dari hulu sungai banyak yang terbuang," jelasnya.
Bagi warga Kelurahan Batu Putih, kesulitan air bersih semakin terasa ketika cuaca ekstrim yang memicu terjadinya banjir. Pipa yang sudah usur itu tersumbat rumput bahkan patah terseret arus banjir.
