Konon, air dari mata air ini hanya akan memancar jika terdengar pukulan gendang dan gong dari para peserta ritual pembersihan. Inilah salah satu alasan mengapa mata air Raano tetap dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.
"Kalau tidak dipukul gendang atau gong, airnya tidak mau keluar," tutur La Gunti kepada telisik.id, Sabtu (1/2/2024).
Baca Juga: Puncak Kayangan 2: Permata Tersembunyi di Pulau Sombori
La Gunti juga mengisahkan, dahulu mata air Raano memiliki lubang besar dengan aliran yang menembus hingga ke Pulau Bata Atas, Buton Selatan. Namun, lubang tersebut akhirnya ditutup secara permanen karena dikhawatirkan membahayakan, terutama bagi anak-anak.
"Ditutup karena khawatir ada anak-anak yang melompat ke dalamnya," ujarnya.
