Di sisi yang lain, sebagian masyarakat yang sadar juga turut resah, petugas medis yang mulai kelelahan juga itu kecewa, maka beberapa waktu lalu wajar saja muncul hestek #indonesia_terserah.
Banyak yang memprediksi tidak terkontrolnya mobilitas penduduk menjelang lebaran ini, akan menjadi berita buruk penanganan pandemi ini dua pekan pasca lebaran. Bahkan rekor terkonfirmasi positif tertanggal 21 Mei 2020 yang mencapai 973 kasus, bukan tidak mungkin akan dilampaui.
Untuk menghentikan penyebaran virus tidaklah mudah, bahkan kita yang telah diminta untuk melakukan hal dengan seragam misalnya physical distancing, perilaku hidup bersih dan sehat, pembatasan aktivitas masal, hingga beribadah, bekerja dan belajar dari rumah belum begitu efektif menghambat kasus.
Apalagi setelah hampir 3 bulan melakukan kegiatan #dirumahsaja itu membuat masyarakat kini terserang rasa jenuh dan mulai terdiagnosa terjadi pengikisan pada kepercayaan publik pada otoritas (baca: pemerintahan) yang ada.
Menurut hemat penulis penyebab situasi ini terjadi karena kejenuhan masyarakat yang sudah cukup lama untuk mengganti hampir seluruh aktivitas harian dan pekerjaannya hanya #dirumah_saja. Virus ini menguji sifat alami manusia sebagai makhluk sosial, melakukan pembatasan aktivitas melalui physical distancing mudah membuat manusia menjadi bosan. Sifat sebagai makhluk sosial yang menginginkan kebersamaan sosial terbatasi oleh situasi yang terjadi.
