“Modero ini sebenarnya bukan untuk hiburan saja, tapi juga ada makna kebersamaan dan persaudaraan. Syair atau puisi lama yang dilantunkan juga berisi nasihat, pesan moral dan ungkapan perasaan muda-mudi,” ujarnya kepada telisik.id, Jumat (23/10/2026).

Menurut Halidi, salah satu tantangan pelestarian Modero saat ini adalah berkurangnya minat generasi muda untuk mempelajari kabhanti dan bahasa Muna. Padahal, kedua unsur tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi ini.

Minat Anak Muda terhadap Modero Mulai Berkurang

Gambaran perubahan tersebut juga dirasakan Ima (21), pemuda asal Muna. Ia mengaku pernah menyaksikan Modero ketika berusia sekitar 10 tahun. Saat itu, tradisi tersebut digelar dalam acara tunuha yang diselenggarakan oleh ayahnya.

Meski belum pernah terlibat langsung sebagai peserta, Ima masih mengingat Modero sebagai kegiatan menari bersama yang disertai saling berbalas pantun.