Jogokariyan sendiri adalah nama sebuah kampung. Dulu, kampung ini menjadi tempat tinggal para prajurit Keraton Yogyakarta. Sekarang dijadikan nama masjid. Sesuai yang dilakukan Rasulullah SAW. Masjid di zaman Rasulullah, pasti sesuai nama daerahnya. Ini supaya wilayahnya jelas.
Bagi Jazir, komitmen itu mampu terjaga, jika masyarakat dapat selalu ditempatkan sebagai tujuan utama. "Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan bagi masyarakat itulah manfaat-manfaat masjid harus dirasakan," kata Jazir.
Tidak cuma dikenal sebagai ikon Masjid Jogokariyan. Laki-laki kelahiran 28 Oktober 1962 itu memang menjadi otak penting lahirnya transformasi. Dari kepalanya, gagasan-gagasan inovatif bermunculan.
Uniknya, sosok yang gemar menggunakan pakaian-pakaian bernuansa Jawa itu kerap menekankan gagasan tidak cuma datang dari pikiran. Terlebih, manusia diciptakan Allah SWT sebagai mahluk sempurna.
"Ada hati yang telah dititipkan Allah SWT untuk bisa merasa," kata Jazir sambil membetulkan peci khas Jogokariyan, yang memiliki ciri buntut dua layaknya penutup kepala abdi dalem Keraton Yogyakarta.
