Dari mereka kita belajar, ketaklengkapan ragawi bukanlah "hukuman Tuhan". Mereka berdua berhasil saling melengkapi dengan caranya masing-masing.
Oleh Muhammad-Samir, langgam kemanusiaan universal dan toleransi benar-benar menjadi laku. Tidak sebatas akuan di podium akademis atau klaim dari mimbar religi.
Mereka menunjukkan kepada kita bahwa kerja sama adalah kodrat kehidupan. Sama halnya siang dan malam, gunung dan lembah, terjal dan curam dan lain seterusnya.
Mereka menuntun kita menuju jalan kearifan. Perbedaan agama bukanlah alasan untuk memusuhi. Bukan pula alasan untuk saling menjauhi, terlebih lagi alasan untuk saling memusnahkan.
Mereka berdua, Muhammad-Samir adalah potret zaman tentang harmoni. Mereka telah mencontohkan, perbedaan adalah harmoni. Seperti nada, dalam beda melantun indah, mendendang jiwa.
