Atau paradoks itu dirasakan, karena sekitar sepekan sebelum peristiwa km 50 ada pernyataan “keras” dari sesepuh Muhammadiyah, Buya Syafi’I tentang tradisi memuliakan keluarga abi (habaib) secara berlebihan yang cenderung disebutnya sebagai “perbudakan spiritual”.

Pernyataan Buya tersebut sekalipun tidak mewakili Muhammadiyah, tetapi secara substansial mewakili konsep cara berpikir Muhammadiyah sebagaimana yang disebutkan oleh Prof. Haedar. Meski mendapat kritikan dari beberapa pihak, namun narasi Buya Syafi’i tidak menjadi topik kontroversial berkelanjutan.

Hal tersebut sangat boleh jadi karena pandangan Buya, keluar dari nurani, atau kritikan tersebut bukan atas dasar kebencian tetapi berbasis saintific, wallahu a’lam bi al sawab.

Terlepas dari hal itu, sependek pengetahuan saya, Muhammadiyah memang tidak pernah “mengurus” FPI apalagi memandangnya sebagai musuh. Bukti untuk hal ini sangat kasat mata, sekalipun mungkin pilihan metode dakwah Muhammadiyah berbeda dengan FPI, namun tidak pernah terdengar anak-anak muda Muhammadiyah, atau komunitas Muhammadiyah menolak kehadiran tokoh FPI Habib Rizieq Shihab, seperti yang dilakukan beberapa ormas Islam dan OKP lainnya.

Baca juga: Pilkada Wakatobi 2020: Menjaring Suara Langit