Jadi, ketika seorang manusia dengan pilihan sadarnya berusaha keras agar kemiskinannya berubah menjadi kekayaan dan itu berhasil dilakukannya, sebenarnya dia tak mengubah sedikit pun takdirnya. Takdirnya bukanlah miskin kemudian dilawan hingga berubah menjadi kaya, namun takdirnya adalah miskin lalu berusaha keras lalu kaya.
Sehingga dengan demikian, sangat tak relevan menanyakan apakah usaha dapat mengubah takdir, sebab usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir.
Sebaliknya, ketika ada seseorang yang lahir dalam kondisi kaya lalu bermalas-malasan, sehingga jatuh miskin, keadaan ini tak dapat dikatakan seolah dia ditakdirkan kaya kemudian mengubah takdirnya dengan bermalas-malasan.
Yang benar adalah dia ditakdirkan lahir dalam keadaan kaya lalu ditakdirkan bermalas-malasan lalu ditakdirkan miskin. Apa yang telah terjadi, itulah takdir. Dengan demikian, takdir selalu selaras dengan realitas yang terjadi dan tak mungkin berbeda.
Sebab itulah dalam suatu hadis diceritakan jawaban Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada orang yang bertanya apakah berobat bisa menolak takdir.
