Pasukan pelaksana dan penindak utama dari Polri ini, punya sejarah yang panjang. Polri sendiri ditetapkan oleh Undang Undang No. 2/2002 sebagai pelindung, pengayom, pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, serta penegak hukum.
Embrio dan perkembangan Brimob, sangat dinamis dan fluktuatif, sejalan dengan bagaimana penguasa politik pada perjalanan dan menjalankan kekuasaan masing-masing. Indonesia saat ini sudah hampir genap 80 tahun merdeka dengan delapan pemimpin yang –katanya— dipilih di alam demokrasi secara demokratis. Berdemokrasi itu budaya lho!
Sangat fluktuatif, memang! Brimob sempat naik, turun, dihapuskan, lahir kembali tapi hidup dikerdilkan sebagai anak bungsu (penyebutan ini agar tidak parsial dalam ketuntasan sebagai pasukan Polri yang sipil) dalam jajaran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sejak 1998, ABRI sudah berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), selayaknya filosofis dan praktis.
Dari sejumlah penamaan paramiliter ini, tercermin dari sosok Brimob dan perkembangannya sejak masa lalu yang dilalui dengan tidak mudah. Sebagai satu sejarah, ada unsur waktu, peristiwa, dan pengalaman di dalamnya. Di jelang merdeka, saat merdeka dan mempertahankan kemerdekaan, hingga hari-hari ini saat terus mengisi hari-hari merdeka, Brimob aktif dalam keberadaannya.
Mungkin, itulah yang disebut sejarah. Prof. Kuntowijoyo (alm) dalam ”Pengantar Ilmu Sejarah” menuliskan, “Sejarahadalah rekontruksi masa lalu”. Tetapi, segera ia menambahkan, jangan dibayangkan bahwa membangun kembali masa lalu itu untuk kepentingan masa lalu sendiri; istu antikaurianisme dan bukan sejarah. Jangan pula dibayangkan masa lalu yang jauh.
