Kata seorang sejarahwan Amerika, “Sejarah itu ibarat orang naik kereta menghadap ke belakang. Ia dapat melihat kebelakang, ke samping kanan dan kiri. Satu-satunya kendala ialah ia tidak bisa melihat ke depan.” (Kuntowijoyo, 1995: 18).
Di masa penjajahan Jepang tergabung, pemuda-pemuda dari berbagai daerah dalam Tokubetsu Keisatsu Tai. Dengan modal pemuda-pemuda ini lahirlah Polisi Istimewa (PI). Di sini tercatat nama-nama besar dan patut diteladani karena perjuangannya mempertahankan kemerdekaan, seperti M. Jasin, Sutjipto Danukusumo, Sahoed Prawirosoedirdjo, serta Soekardjo dan Kasdam.
Baca Juga: Al Aqsha Amankah Dikunjungi?
Kemudian, berubah menjadi Mobile Brigade (Mobrig) dengan berbagai kejayaan Pasukan Pelopor-nya. Pada fasenya, berubah menjadi Brigade Mobil (Brimob, 1961). Setelah sempat melalui “pengkerdilan” oleh politik penguasa, kini eksis dengan jatidirinya, tetap sebagai Brimob sebagai pasukan penindak utama Polri.
Kini kehadiran Brimob dengan ragam sentuhan modernisasi. Terciri dengan alat dan peralatan khususnya, serta keberadaan Pasukan Gegana yang meliputi kemampuan di bidang kimia, biologi, radioaktifn dan nuklir (KBRN). Satu lagi yang tak bisa dilupakan, darinya lahir Pasukan Antiteror yang pada kiprahnya mampu membuktikan keefektivannya.
