Brimob nyaris tak pernah absen dalam berbagai langkah peniadaan gangguan keamanan berintensitas tinggi di Tanah Air, di bawah panji-panji Bhayangkara.

Kini jelang tiga dekade, Indonesia ada dalam alam sipil. Brimob ada sebagai  bagian dari Polri yang sipil. Tentu saja, minus dari mereka yang terlibat tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai oknum, terlalu sayang untuk dilalukan begitu saja tanpa banyak anak-anak bangsa ini menghayati dan meneladaninya sebagai nilai juang demi tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Museum tampaknya mejadi media yang efektif untuk membuat “Brimob untuk Indonesia” tidak sekadar sebagai satu kalimat jargon. Tetapi, terhayati dan terimplementasi dalam kecintaan yang hakiki.

Artinya, “Brimob untuk Indonesia” tercermin dari warga Brimob sendiri, yang seketika itu juga diharapkan menjalar kepada masyarakat umum.

Sehingga, “nilai-nilai juang dan inovatif” tersebut hidup positif dalam kehidupan sehari-hari sebagai bangsa yang merdeka terbebas dari rasa takut. Bahkan, menginspirasi kepada gerak perubahan yang kreatif produktif. (*)