Menulis, berita atau feature (juga foto, khusus bagi alm. Nan), bagi kami, adalah demi hobi. Lagi pula, untuk ukuran waktu itu, jika sampai terbit di media-media cetak Jakarta, honornya lumayan gede. Bisa bikin asap dapur tetap ngebul, sambil menunggu awal bulan, saat datangnya honor dari media tempat kami sebagai koresponden.
Di tahun 1980-an, tulisan Nan kerap menghiasi halaman Tabloid Mingguan Olah Raga Bola (Grup Kompas). Pada masa itu, tulisan seseorang berhasil tembus dimuat oleh Bola (kini tidak terbit lagi), tempat bercokolnya wartawan olah raga kawakan seperti Sumohadi Marsis, bagi wartawan di daerah (Lampung), menjadi kebanggaan tersendiri.
Diam-diam kami berdua seperti terlibat “bersaing”. Tentunya sehat. Dia kerap menulis di Bola, saya di Tabloid Mingguan Tribune Olahraga (Grup Sinar Harapan) asuhan jurnalis Stevi Rompis. Kami menjadi lebih akrab lagi ketika sama-sama nyambi di koran lokal Suara Angkatan Pembangunan (SAP), sebuah koran mingguan Lampung yang pertama cetak rutin berwarna. Di sini, Nan redaktur foto, sedangkan saya redaktur olah raga.
Baca Juga: Sejarah Hari Ibu di Indonesia
Terakhir, di Harian Pelita, Nan tercatat sebagai koresponden. Koran Jakarta yang berkantor di Jalan Sudirman itu, sudah lama tak terbit lagi. Saya pun tak pernah lagi membaca berita-berita liputannya tetang Lampung atau hasil guratan tangannya berupa feature nan indah.
