Pencapaian tersebut sekaligus membawanya kembali mewakili Indonesia berlaga di ajang Asian Games di Beijing pada tahun 1990. Dimana pada saat itu Razak dan rekan timnya hanya mampu menyumbangkan 2 medali perunggu.

Kemudian dirinya bersama dengan timnya kembali mengikuti ajang internasional di Barcelona Spanyol pada tahun 1992 dan hanya lolos pada perempat final.

Peraih medali emas Sea Games 1993 itu mengungkapkan bahwa setelah mengikuti serangkaian kompetisi dayung di beberapa kejuaraan, dirinya kemudian menerima tawaran dari Pemerintah Jawa Timur untuk menjadi pelatih atlet dayung.

"Alhamdulillah saya dapat membimbing anak-anak Jawa Timur saat itu memperoleh medali emas pada kejuaraan nasional untuk kategori sayap 4 dan 2 tahun 1994 dapat emas di sayap 4 dan 2," ujarnya lagi.

Melihat progresnya yang terus menurun setelah itu, akhirnya ia memilih pensiun dan kembali ke kampung halamannya sebagai seorang nelayan. Pada saat itu dirinya diberikan apresiasi oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga, dan mendapat julukan sebagai 'mesin tempel' oleh Gubernur Sultra saat itu, Laode Kaimoeddin.