Meskipun saat ini hanya memproduksi satu varian rasa, permintaan untuk nastar kaopiku terus meningkat, dan ada yang datang dari luar Kabupaten Buton Selatan. Setiap cup nastar kaopiku dibandrol dengan harga Rp 100.000.
Uliyani menjelaskan bahwa produksi kue nastar ini melibatkan ibu rumah tangga di Desa Bola yang berprofesi sebagai petani singkong.
Pelibatan ibu rumah tangga ini diharapkan dapat memberdayakan masyarakat lokal serta mendukung perputaran ekonomi di desa tersebut. Semua bahan baku singkong untuk olahan nastar berasal dari hasil panen warga setempat.
“Setiap hari, kami memproduksi sekitar 10 kilogram tepung singkong kering (kaopiku) yang menghasilkan 30 kilogram kue nastar kaopiku,” ujar Uliyani, Sabtu (1/2/2025).
Nastar kaopiku, menurut Uliyani, bisa bertahan hingga tiga bulan, tapi tergantung pada cara penyimpanannya.
