SURABAYA,TELISIK.ID - Pengamat masalah sosial politik keagamaan, Adi Supriadi melihat, kebiasaan pengelola negara menilai "menyesatkan" cara berfikir masyarakat semakin terus menjadi-jadi, kali ini mengenai dicabutnya subsidi minyak goreng.

Menurutnya, sedari awal memang subsidi bukanlah solusi strategis, solusi ini hanya lebih kepada meredam gejolak rakyat akibat krisis minyak goreng di tanah air.

Kata dia, ketika minyak goreng langka dan mahal, akibat dari mafia ekspor minyak goreng, lalu pemerintah mencari solusi dengan menangkap aktor mafia minyak goreng dengan status tersangka hasil bisikan di belakang Mendag saat rapat dengan DPR.

"Tapi belum menutup masalah gejolak, kekhawatiran Joko Widodo (Jokowi) tumbang akibat minyak goreng, dibuatlah solusi taktis yang sudah biasa dilakukan sebelum-sebelumnya, yaitu subsidi atau bansos minyak goreng, gejolak rakyat lumayan melandai,"  papar Adi, Senin (30/5/2022)

Adi menjelaskan, program subsidi minyak goreng curah ini diterapkan pemerintah sejak Maret 2022. Tujuan program ini agar harga minyak goreng curah dapat dikendalikan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram (Kg).