Harga asli atau setidaknya, jika pun naik misalnya hanya Rp 1000 perak, anggap yang Rp 14.000 menjadi Rp 15.000, fakta di lapangan kan masih berkisar di angka Rp 24 ribu untuk yang 1 Kg, jadi berhasil menekan yang mana? Atau pemerintah yang berhasil ditekan kelompok oligarki, jika tidak menurut akan ditumbangkan?,“ tanyanya.
Jurnalis dan aktivis penggiat media sosial ini kembali menekankan, persoalan minyak goreng harus diselesaikan ke akarnya dengan solusi strategis, bukan hasil negosiasi dengan para cukong minyak goreng.
Masih terlihat kebijakan-kebijakan yang muncul, seperti masih hasil negosiasi dengan para kartel ekpsor minyak goreng, pemerintah seperti tidak punya kendali penuh mengurusnya.
Menurutnya kalau hanya sekedar dengan solusi taktis subsidi, bansos untuk membuat rakyat diam sambil menunggu isu baru seperti kasus UAS ditolak Singapura di blow up oleh para mafia minyak goreng di Singapura, sehingga isu minyak goreng bisa dihilangkan.
Terlihat cukup berhasil, dan karena sudah berhasil, diduga negara seperti kembali ke awal lagi, subsidi dicabut, lalu harga minyak goreng tetap sama sesuai keinginan para cukong ekspor minyak goreng.
