BEIJING, TELISIK.ID - Beberapa negara di dunia berambisi memiliki matahari buatan melalui teknologi Experimental Advance Superconducting Tokamak (EAST).
Pada Mei lalu ternyata matahari buatan China menciptakan rekor baru, dengan suhu plasma EAST sudah berhasil mencapai 120 juta derajat Celcius selama 101 detik dan 160 juta Celcius selama 20 detik.
Alat ini dirancang untuk meniru proses fusi nuklir yang terjadi secara alami di matahari dan bintang-bintang untuk menyediakan energi bersih yang hampir tak terbatas melalui fusi nuklir terkontrol. Bukan hanya China yang mengembangkan matahari buatan ini, melainkan juga negara maju lainnya seperti Inggris, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Perancis.
Dilansir dari Cnbcindonesia, alasan negara maju membuat matahari buatan ini yakni untuk keperluan energi bersih dan tidak lagi bergantung pada energi fosil. Energi dari bahan bakar fusi ini pun diperkirakan bisa lebih berlimpah ketimbang energi fosil. Bahkan, energi yang dihasilkan dari reaksi fusi diperkirakan empat kali lebih besar dari reaksi fusi yang dihasilkan reaktor nuklir.
Selain itu, fusi dapat menghasilkan energi sesuai permintaan dan tidak terpengaruh cuaca. Situs ITER menyebutkan selama ada unsur hidrogen maka reaksi fusi tetap dapat dilakukan. Ini menjadikannya berbeda dengan pembangkit energi ramah lingkungan yang lainnya, yang dipengaruhi oleh konsistensi pasokan sumber energi seperti surya, air, dan angin.
